Saturday, 11 July 2009

Aku Kalah, Aku Salah

By: Aun Falestien Faletehan

Fenomena jajaran para caleg yang mengalami gangguan kejiwaan akibat kalah bersaing kini bukan lagi menjadi kasus lokal saja. Hal demikian sudah menjadi wabah nasional yang merajalela di setiap daerah. Kondisi ini seolah-olah melukiskan bahwa para caleg tersebut hanya mempersiapkan mentalnya untuk semata-mata menang saja, dan tidak siap untuk kalah.

Terjebak dalam rutinitas padat yang kerapkali mengotori pikiran jernih dan menciptakan persaingan ketat yang tidak sehat, setiap orang sekarang ini selalu ‘dipaksa’ dan ‘dicuci otak’ untuk selalu bisa menang di setiap pekerjaan. Pendeknya, kita semua gagal hidup bila kita tidak menang. Buku-buku yang ramai diburu adalah buku yang menawarkan tips untuk meraih kemenangan. Akibatnya, otak manusia hanya diperkenalkan dengan mimbar-mimbar kemenangan sehingga tidak lagi mengenal kamus kekalahan.

Dalam bukunya I was wrong: the meanings of apologies, Nick Smith (2008) menggambarkan betapa pentingnya budaya maaf dan mengakui kekalahan dalam era modern ini. Legawa untuk mengakui keunggulan dan benarnya pihak lain merupakan sumber utama dari makna moral kaum modern. Semakin modern sebuah era, semakin kompleks pula sebuah konflik. Contoh sederhana, kalau kita diputuskan salah atau kalah, maka dengan dukungan finansial yang kuat dan jajaran pengacara yang handal pun, keputusan tersebut bisa saja dirubah. Pastinya setelah melewati pos-pos peradilan yang butuh waktu bertahun-tahun.

Kalau realita ini ditambah lagi dengan semaraknya keyakinan bahwa semua orang adalah pemenang, maka panggung sandiwara kehidupan kita akan menjadi lucu untuk dilihat. Ibarat melihat anak-anak kecil yang bertengkar; lucu bahwa tidak ada yang mau mengalah atau mengaku kalah. Tidak ada yang mau merasa salah, semua merasa benar. Kelucuan ini mungkin akan menghibur pemirsa bila pelakunya masih kanak-kanak. Namun kalau pemainnya adalah para pejabat yang bertitel akademik dan berpangkat tinggi, kelucuan akan berubah menjadi kejengkelan di mata masyarakat.

Sejatinya, mengajarkan kehidupan tidaklah cukup hanya dengan memberikan tips untuk menjadi orang yang menang. Menunjukkan sikap yang jantan dalam menghadapi kekalahan adalah hal penting juga untuk diajarkan. Samahalnya dengan kalau kita melakukan sebuah kesalahan. Seketika kita sadar kalau kita salah, seketika itu pula kita akui kesalahan. Hal itu bukanlah aib, baik di mata publik apalagi di mata Tuhan. Sebuah proverb anonim mengatakan, “Sepanjang kesalahan kita adalah sebuah hal yang baru, maka kita pada hakikatnya telah membuat sebuah kemajuan.” Kemajuan itu tentu diartikan dengan adanya proses pembelajaran dari kesalahan atau kekalahan di masa silam. Harapannya, kekalahan di masa sekarang akan menjadi kemenangan di masa datang, dan kesalahan saat ini bisa dirubah menjadi kebenaran di waktu selanjutnya.

Kalah dan menang mungkin sebaiknya tidak dimaknai secara bertentangan. Dikotomi keduanya tidaklah sama dengan pahala dan dosa. Justru keduanya saling melengkapi. Seperti pertarungan si kaya dan si miskin; tidak akan ada yang kaya kalau tidak ada yang miskin. Dua perbedaan status ekonomi ini sama-sama dibutuhkan. Namun roda perputaran nasib terus bergerak. Artinya, yang hari ini hidup kekurangan tidak menutup kemungkinan menjadi orang kaya keesokan harinya. Untuk caleg yang gagal, akui saja kekalahan saat ini. Tata niat dan hati yang baru. Pasang strategi yang lebih marketable. Raih kemenangan di kesempatan pemilu yang lain.