Sunday, 22 June 2008

To open, maintain and finish it …

Dari semenjak kecil, kita diajari untuk selalu membaca BASMALAH ketika mau mengerjakan segala sesuatu; apa pun jenis perbuatan itu selama masih bisa dipandang santun di mata Agama dan masyarakat.

Lafal Bismillahirrohmanirrohim diyakini menjadi kunci gerbang pembuka yang senantiasa mengawal semua gerak-gerik tingkah laku kita menuju keselamatan. Pepatah mengatakan, “Banyak jalan menuju Roma”; maka bacalah Basmalah sebelum menemukan jalan yang paling cepat dan selamat. Kalimat Arab ini mungkin tidak memberikan jaminan pada kita untuk menemukan pilihan yang paling ideal dalam pandangan kita. Namun lafal mulia tersebut seyogyanya akan mengarahkan kita untuk melakukan perbuatan yang efektif dan efisien di mata Sang Pencipta. Apa-apa yang terbaik di mata kita belum tentu baik pula di mata Allah.

Bismillah, Aku mau berangkat ke Mesir untuk sekolah tingkat lanjut,” demikian ujaran hatiku. Setelah sekian lama proses dan seleksi, ternyata malahan sekarang menuntut ilmu Master di negeri Barat, Canberra, Australia. Kelihatannya Mesir mungkin bagus di mataku. Waah, katanya itu negeri muslim yang memiliki sisi sejarah Islam yang sangat kental. Pulang sekolah dari sana mungkin menambah ketebalan pemahaman keislamanku. Islam Mesir atau Islam Indonesia?. Tapi, aku hanya berbaik sangka, mungkin Australia yang terbaik dalam pilihan Allah. “Kalau itu memang pilihan-Mu, aku yakin jalan kesuksesanku akan menyambutku dengan karpet merah”. Dalam keyakinanku, Kau tidak menebarkan cahaya Islam di negeri Timur Tengah saja, namun Kau bisa saja menancapkan satu cahaya lilin yang paling terang di antara kegelapan agama di negeri-negeri yang seringkali dinilai ateis atau ‘tidak peduli pada agama manapun’ oleh sebagian khalayak.

Bismillah, aku nggak akan menikah sebelum usia 30-an, sampai semua urusan jenjang sekolah dan sisi materialku mapan dulu. “Tunggu dulu …” mungkin begitu pendapat Allah yang kayaknya kurang setuju dengan idealismeku. Aku justru dikirimi-Nya bidadari kesepian yang diturunkan dari surga tingkat teratas-Nya. Seringkali aku bercanda tentang kualitas istriku yang satu ini, “Barangkali, Allah kasihan melihatmu merasa kesepian di taman air pancuran surgawi. Makanya kamu dikirimkannya kepadaku seketika, tanpa menunggu hingga Hari Akhirat dibuka untuk umum.” Mmmmhh … Kecupan di pipiku pun melayang dari istriku mendengar ucapan mesraku itu. Siapa yang menyarankan kita untuk harus menunggu menikah sampai kita semua mapan dari sisi material dan emosional? Menikahlah, maka kamu akan dilipatgandakan rezekimu. Menikahlah, maka kamu akan didewasakan pola berpikirmu. Menikahlah, maka kamu akan punya dua akal untuk menyelesaikan studi lanjutmu.

“Semua urusan yang tidak dimulai dengan basmalah, maka urusan itu terputus,” sabda Kanjeng Muhammad SAW. Amal perbuatan yang terputus adalah amal yang tidak mempunyai ujung, muspra, sia-sia, tidak ada tujuannya; dan itu tidak dimulai dengan nama Allah. Sebaliknya, amal yang senantiasa diawali dengan nama Allah justru tidak akan pernah terputus, bahkan akan selalu berakhir dengan nama Allah lagi. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kita semua berasal dari Allah dan akan kembali pula kepada-Nya.

Dengan mengikrarkan Bismillahirrohmanirrohim secara lisan dan kalbu, kumulai penulisan blog ini dengan harapan dapat mengambil intisari dari kalimat Arab sempurna itu dan, pada akhirnya, memancarkan ke tulisan-tulisan yang tampil di situs ini. “Aku hanya meminta padamu Wahai Allah, kalau blog ini dirasa kurang berkenan dalam ridha-MU, ubahlah setiap huruf yang tertera menjadi kalimat dakwah yang menyuarakan kebesaran Dzat dan Kekuasaan-MU.”

(To be continued without ending)

Relaxing with my wife
Belconnen, Canberra, Australia
22 June 2008