Dari semenjak kecil, kita diajari untuk selalu membaca BASMALAH ketika mau mengerjakan segala sesuatu; apa pun jenis perbuatan itu selama masih bisa dipandang santun di mata Agama dan masyarakat.
Lafal Bismillahirrohmanirrohim diyakini menjadi kunci gerbang pembuka yang senantiasa mengawal semua gerak-gerik tingkah laku kita menuju keselamatan. Pepatah mengatakan, “Banyak jalan menuju Roma”; maka bacalah Basmalah sebelum menemukan jalan yang paling cepat dan selamat. Kalimat Arab ini mungkin tidak memberikan jaminan pada kita untuk menemukan pilihan yang paling ideal dalam pandangan kita. Namun lafal mulia tersebut seyogyanya akan mengarahkan kita untuk melakukan perbuatan yang efektif dan efisien di mata Sang Pencipta. Apa-apa yang terbaik di mata kita belum tentu baik pula di mata Allah.
“Bismillah,
“Bismillah, aku nggak akan menikah sebelum usia 30-an, sampai semua urusan jenjang sekolah dan sisi materialku mapan dulu. “Tunggu dulu …” mungkin begitu pendapat Allah yang kayaknya kurang setuju dengan idealismeku. Aku justru dikirimi-Nya bidadari kesepian yang diturunkan dari surga tingkat teratas-Nya. Seringkali aku bercanda tentang kualitas istriku yang satu ini, “Barangkali, Allah kasihan melihatmu merasa kesepian di taman air pancuran surgawi. Makanya kamu dikirimkannya kepadaku seketika, tanpa menunggu hingga Hari Akhirat dibuka untuk umum.” Mmmmhh … Kecupan di pipiku pun melayang dari istriku
“Semua urusan yang tidak dimulai dengan basmalah, maka urusan itu terputus,” sabda Kanjeng Muhammad SAW. Amal perbuatan yang terputus adalah amal yang tidak mempunyai ujung, muspra, sia-sia, tidak ada tujuannya; dan itu tidak dimulai dengan nama Allah. Sebaliknya, amal yang senantiasa diawali dengan nama Allah justru tidak akan pernah terputus, bahkan akan selalu berakhir dengan nama Allah lagi. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kita semua berasal dari Allah dan akan kembali pula kepada-Nya.
Dengan mengikrarkan Bismillahirrohmanirrohim secara lisan dan kalbu, kumulai penulisan blog ini dengan harapan dapat mengambil intisari dari kalimat Arab sempurna itu dan, pada akhirnya, memancarkan ke tulisan-tulisan yang tampil di situs ini. “Aku hanya meminta padamu Wahai Allah, kalau blog ini dirasa kurang berkenan dalam ridha-MU, ubahlah setiap huruf yang tertera menjadi kalimat dakwah yang menyuarakan kebesaran Dzat dan Kekuasaan-MU.”
(To be continued without ending)
Relaxing with my wife
Belconnen, Canberra, Australia
22 June 2008