Salah satu sahabat Nabi pernah berujar secara diplomatis, “Awwaluddiin ma’rifatullah”; bahwa agama itu semestinya diawali dengan mengenali Allah. Tidak ada agama kalau tidak ada Tuhan. Setiap agama selalu memperkenalkan masing-masing tuhannya kepada pemeluknya yang masih baru.
Begitu juga dengan Islam, Allah memang sebenarnya adalah Dzat yang sudah dikenali oleh setiap insan semenjak zaman ‘azali; makanya ada istilah “perjanjian primordial” antara ruh kita (sebelum diciptakannya jasad) dengan Allah. “Alastu bi rabbikum? Qaaluu bala wa rabbina ...,” demikian sebagaimana tertera dalam alQur’an. Namun, setelah kita dilahirkan di bumi ini, dan ruh kita pun bersentuhan dengan bahan-bahan material yang ‘kotor’ dari alam dunia, kita cenderung untuk lupa dengan perjanjian itu. Makanya, kita diajari lagi siapa itu Allah dan bagaimana kita harus bersikap kepada-Nya.
Then, siapa itu Allah? ... Pertanyaan yang sangat besar. Bahkan, kita semua seringkali diarahkan untuk tidak berpikir tentang Dzat-Nya karena bukan kawasan kita, tapi cukup hanya dengan mempelajari segala ciptaan-Nya. Lalu bagaimana kita bisa mengenali Allah, sementara di sisi lain kita selalu diberi rambu-rambu untuk tidak menyentuh area Dzat-Nya?
Salah satu caranya, ada kalimat bijak lain yang menyebutkan Man ‘arafa nafsahu ‘arafa rabbahu; barangsiapa yang mengenali diri, maka akan mengenali Tuhannya. Dengan memahami diri sendiri akan mengantarkan kita untuk bisa memahami Allah.
So, bagaimana memahami diri sendiri? ... Butuh riset yang tidak pendek untuk menjawab total pertanyaan ini. Illustrasi imajinatif (adaptasi dari bukunya Anthony De Mello) dari dialog di bawah ini mencoba menggambarkan;
Menurut orang-orang ahli hikmah, ternyata mengenali diri sendiri juga tergolong susah. Makanya, karena tergolong berlevel susah, jika berhasil menembus tahap ini; niscaya bisa benar-benar mengenali Allah. Ma’rifat Allah. Orang Jawa menyebutnya ilmu makrifat, ilmu ladunni, tidak semua orang dikarunai hal semacam ini oleh Allah. Seorang ahli Wisdom dari Tiongkok Kuno, Tao Te Ching, juga pernah berujar, Knowing others is wisdom. Knowing the self is enlightenment. Mastering others requires force. Mastering the self requires strength.
Lalu apa gunanya bagi orang awam? Apakah gagasan ‘mengenali diri’ hanya untuk diperuntukkan kalangan Aulia atau para filosof?
Agama ‘kan mudah. Kalau bisa dipermudah, kenapa dipersulit. Saya pribadi tidak akan terjerembab dengan diskusi yang penuh filsafat tapi makin menjauhkan dari Allah. Kalau ada beberapa madzhab yang kita ketemui, bukankah Rasulullah menganjurkan kita untuk memilih pendapat yang memudahkan kita. Tujuannya bukan untuk memilih yang ringan-ringan dalam beribadah, tapi memilih metode yang dirasakan memudahkan kita untuk berdekatan dengan Allah.
Diri atau konsep Self, kalau ditilik secara akademis, filosofis, biologis, neurologis, etc; akan menjadi diskusi yang panjang, penuh debat dan akan selalu muncul revisi. Tapi coba dikonsumsi dengan rasa atau hati; “Tanyalah pada hatimu sendiri?”; sebagaimana Rasul yang selalu menunjuk Shudur atau dada ketika menghadapi masalah-masalah yang tidak diketemukan jawaban. Niscaya akan muncul jawaban yang memuaskan masing-masing individu meski konsekuensinya nanti menghasilkan jawaban yang tidak sama.
Untuk mendekatkan diri dengan Allah, akan menjadi lebih bermakna bila dimulai dengan menguak sisi kelemahan dan kekotoran dari diri kita, karena memang seperti itulah faktanya; kita dibentuk dari setetes air yang hina.
Kita datang ke dunia dengan tidak membawa akal dan kecerdasan; makanya kita butuh Allah yang Maha Cerdas dan Bijaksana (al-‘Arif). Kita hadir dengan tidak membawa harta dan pundi-pundi kekayaan; makanya kita butuh Allah yang Maha Kaya (al-Ghani).
Semakin kita merasa kotor, semakin kita merasa bahwa kita sangat butuh Allah untuk mensucikan kita. Konsep diri kepada Allah adalah konsep “rendah diri”. Gagasan ini tentu memiliki perbedaan yang amat tajam jika dipakai dalam kehidupan sosial kita; karena kita diajari untuk selalu “rendah hati” dan tidak merasa rendah diri di depan masyarakat. Sebaliknya, apa yang bisa kita banggakan di hadapan Allah? Tidak ada ... Sujud kita sebetulnya menunjukkan bagaimana rendahnya diri kita di hadapan Allah sebagaimana pola dahi yang menyentuh tanah tatkala menyembah.
Akan tetapi, bila diri kita sudah merasa lebih pintar, paling kaya, dan sok berwibawa; maka logikanya akan semakin menjauhkan diri dari Yang Maha Pintar, Kaya dan Wibawa. Dalam bahasa kasarnya, “diri tidak butuh lagi Yang Maha Memberi, karena diri sudah merasa bisa memberi orang lain.”
Akhirnya, banyak cara untuk bisa berakrab dengan Allah. Ada jalan yang terkesan rumit atau teoritis, ada juga yang sengaja dibikin rumit, namun pasti akan ada jalan yang sangat memudahkan kita semua. Bahkan jalan yang terakhir itu adalah jalan raya yang sangat besar dan dilalui oleh setiap pengemudi agama Islam di setiap tikungan negara.
Canberra, 14 September 2008
Ramadhan, 8:39 AM
Begitu juga dengan Islam, Allah memang sebenarnya adalah Dzat yang sudah dikenali oleh setiap insan semenjak zaman ‘azali; makanya ada istilah “perjanjian primordial” antara ruh kita (sebelum diciptakannya jasad) dengan Allah. “Alastu bi rabbikum? Qaaluu bala wa rabbina ...,” demikian sebagaimana tertera dalam alQur’an. Namun, setelah kita dilahirkan di bumi ini, dan ruh kita pun bersentuhan dengan bahan-bahan material yang ‘kotor’ dari alam dunia, kita cenderung untuk lupa dengan perjanjian itu. Makanya, kita diajari lagi siapa itu Allah dan bagaimana kita harus bersikap kepada-Nya.
Then, siapa itu Allah? ... Pertanyaan yang sangat besar. Bahkan, kita semua seringkali diarahkan untuk tidak berpikir tentang Dzat-Nya karena bukan kawasan kita, tapi cukup hanya dengan mempelajari segala ciptaan-Nya. Lalu bagaimana kita bisa mengenali Allah, sementara di sisi lain kita selalu diberi rambu-rambu untuk tidak menyentuh area Dzat-Nya?
Salah satu caranya, ada kalimat bijak lain yang menyebutkan Man ‘arafa nafsahu ‘arafa rabbahu; barangsiapa yang mengenali diri, maka akan mengenali Tuhannya. Dengan memahami diri sendiri akan mengantarkan kita untuk bisa memahami Allah.
So, bagaimana memahami diri sendiri? ... Butuh riset yang tidak pendek untuk menjawab total pertanyaan ini. Illustrasi imajinatif (adaptasi dari bukunya Anthony De Mello) dari dialog di bawah ini mencoba menggambarkan;
Di sebuah kampung yang sepi terdapat sebuah masjid yang tertutup pintunya. Seseorang pun mengetuk pintu dengan harapan ada takmir masjid yang membukakan pintu. “Sudah saatnya shalat nih,” pikir sang pengembara. Ia pun mengetuk pintu.
Thok ... Thok ... Thok
“Permisi ... Ada orang di dalam?” tanya si pengembara
“Siapa di luar?” Sahut yang di dalam masjid.
“Nama saya Falestien. Emang kayaknya nama-nama bule sih, tapi saya muslim lho. Indonesia lagi ... Saya mau numpang shalat.”
Saya tidak menanyakan namamu, dari jenis mana namamu berasal, ataupun agamamu. Saya hanya bertanya, Siapa kamu?
Emmhh ... Saya mahasiswa di University of Canberra sih. Semoga aja semester ini saya bisa lulus. Aku ngambil Human Resource Management lho.
Sombong bangeeeet. Siapa yang nanya sekolahmu. Lagian, apa hanya kamu seorang yang kuliah di Australia. Ngaca dulu dong. HRM lagi ... ditanya tentang diri kamu aja nggak bisa jawab secara bener. Kuliah yang lebih giat lagi. Aku cuma nanya, Siapa kamu?
Oke, saya jujur deh. Visa saya emang student, tapi saya juga nyambi kerja di Canberra. Tapi kerjaan saya ini legal dan tidak melanggar peraturan.
Aku tidak menanyakan tentang aktivitasmu di Canberra. Aku hanya nanya, Siapa kamu?
Ohh ... Saya sih aslinya Sidoarjo. Istri saya dari Surabaya. Dinas saja juga di Surabaya. Tahu nggak ... Sekarang Sidoarjo masih belum aman. Lumpur Lapindo masih mengancam penduduk sekitar.
Bodoh ... Bodoh ... Bukan kegiatan atau kejadian di negeri asalmu yang aku ingin tahu. Tapi siapa kamu?
Siapa aku ... Siapa aku ... Dengan wajah yang masih bingung. Akhirnya insan ini pun menyerah dan melanjutkan perjalanannya. “Mending shalat di rumah aja. Mumpung masih sempat.”
Menurut orang-orang ahli hikmah, ternyata mengenali diri sendiri juga tergolong susah. Makanya, karena tergolong berlevel susah, jika berhasil menembus tahap ini; niscaya bisa benar-benar mengenali Allah. Ma’rifat Allah. Orang Jawa menyebutnya ilmu makrifat, ilmu ladunni, tidak semua orang dikarunai hal semacam ini oleh Allah. Seorang ahli Wisdom dari Tiongkok Kuno, Tao Te Ching, juga pernah berujar, Knowing others is wisdom. Knowing the self is enlightenment. Mastering others requires force. Mastering the self requires strength.
Lalu apa gunanya bagi orang awam? Apakah gagasan ‘mengenali diri’ hanya untuk diperuntukkan kalangan Aulia atau para filosof?
Agama ‘kan mudah. Kalau bisa dipermudah, kenapa dipersulit. Saya pribadi tidak akan terjerembab dengan diskusi yang penuh filsafat tapi makin menjauhkan dari Allah. Kalau ada beberapa madzhab yang kita ketemui, bukankah Rasulullah menganjurkan kita untuk memilih pendapat yang memudahkan kita. Tujuannya bukan untuk memilih yang ringan-ringan dalam beribadah, tapi memilih metode yang dirasakan memudahkan kita untuk berdekatan dengan Allah.
Diri atau konsep Self, kalau ditilik secara akademis, filosofis, biologis, neurologis, etc; akan menjadi diskusi yang panjang, penuh debat dan akan selalu muncul revisi. Tapi coba dikonsumsi dengan rasa atau hati; “Tanyalah pada hatimu sendiri?”; sebagaimana Rasul yang selalu menunjuk Shudur atau dada ketika menghadapi masalah-masalah yang tidak diketemukan jawaban. Niscaya akan muncul jawaban yang memuaskan masing-masing individu meski konsekuensinya nanti menghasilkan jawaban yang tidak sama.
Untuk mendekatkan diri dengan Allah, akan menjadi lebih bermakna bila dimulai dengan menguak sisi kelemahan dan kekotoran dari diri kita, karena memang seperti itulah faktanya; kita dibentuk dari setetes air yang hina.
Kita datang ke dunia dengan tidak membawa akal dan kecerdasan; makanya kita butuh Allah yang Maha Cerdas dan Bijaksana (al-‘Arif). Kita hadir dengan tidak membawa harta dan pundi-pundi kekayaan; makanya kita butuh Allah yang Maha Kaya (al-Ghani).
Semakin kita merasa kotor, semakin kita merasa bahwa kita sangat butuh Allah untuk mensucikan kita. Konsep diri kepada Allah adalah konsep “rendah diri”. Gagasan ini tentu memiliki perbedaan yang amat tajam jika dipakai dalam kehidupan sosial kita; karena kita diajari untuk selalu “rendah hati” dan tidak merasa rendah diri di depan masyarakat. Sebaliknya, apa yang bisa kita banggakan di hadapan Allah? Tidak ada ... Sujud kita sebetulnya menunjukkan bagaimana rendahnya diri kita di hadapan Allah sebagaimana pola dahi yang menyentuh tanah tatkala menyembah.
Akan tetapi, bila diri kita sudah merasa lebih pintar, paling kaya, dan sok berwibawa; maka logikanya akan semakin menjauhkan diri dari Yang Maha Pintar, Kaya dan Wibawa. Dalam bahasa kasarnya, “diri tidak butuh lagi Yang Maha Memberi, karena diri sudah merasa bisa memberi orang lain.”
Akhirnya, banyak cara untuk bisa berakrab dengan Allah. Ada jalan yang terkesan rumit atau teoritis, ada juga yang sengaja dibikin rumit, namun pasti akan ada jalan yang sangat memudahkan kita semua. Bahkan jalan yang terakhir itu adalah jalan raya yang sangat besar dan dilalui oleh setiap pengemudi agama Islam di setiap tikungan negara.
Sang pengembara akhirnya curhat ke Supervisor Akademisnya. “Kamu itu memang cari yang rumit-rumit aja. Kenapa pertanyaan semacam itu ditanggapi. Kamu datang ke masjid itu ‘kan niatnya mau shalat! Ya ... Shalat aja. Kamu ‘kan dalam keadaan suci, sudah ambil wudhu, baju dan celana tidak dalam keadaan najis. Kenapa tidak shalat di bagian sisi luar dari masjid. Bilik luar masjid ‘kan juga tempat yang suci. Malahan, tanah di luar masjid pun juga suci. Semua tanah yang membentang luas ini bumi ini suci. Tinggal sucikan dirimu saja dan bentangkan sajadahmu. Aku yakin, tasbihmu akan sampai ke singgasana Allah. Tidak perlu kau habiskan waktu untuk mencari-cari tentang konsep dirimu. Allah Maha Tahu tentang apa-apa yang ada dalam dirimu.” seloroh sang supervisor.
Canberra, 14 September 2008
Ramadhan, 8:39 AM