By Aun Falestien Faletehan
Senyum, senyumlah terus anak bangsa Indonesia. Survey international menunjukkan kalau kita adalah negeri khatulistiwa yang paling murah senyum dibandingkan dengan negeri-negeri lain.
Senyumlah terus di kala para pejabat sedang sibuk berkampanye dan menomorsekiankan pekerjaan utamanya sebagai pelayan umat. Senyumlah terus tatkala kalangan elite kita sedang asyik menyelamatkan diri karena ketahuan mengeruk kekayaan masyarakat. Senyumlah terus saat kita tidak berdaya melihat akrobatik licik pemain politik kita; saat kita tidak punya kuasa untuk melakukan aksi penolakan nyata; saat kita tidak mampu menampar pipi pemimpin kita; saat kita hanya bisa … dan hanya bisa … tersenyum saja.
Yang bisa kalian lakukan, hanya senyum dan berdoa. Senyummu adalah sedekah. Sedekah bagi politikus kakap yang tidak lagi mengenal rasa empati. Sedekah bagi pejabat berdasi yang tidak pernah lagi mengenali gejala-gejala kemiskinan.
Kalian, duhai anak bumi pertiwi Indonesia, memang penghuni surga. Bukan surga di kehidupan sini. Tertindas, ditipu, diambil hak-haknya, tapi masih bersedekah senyuman. Semoga senyummu bisa merubah perilaku elite kekuasaan dan mengangkat derajat perekonomian kita.
“Lanjutkan” senyumanmu. “Lebih cepat, lebih baik”, agar “ekonomi kerakyatan” makin didapat dan dirasa.